Berlayar ke Kepulauan Banda (Bagian 2: Pulau Pisang dan Mercusuar Lautaka di Ujung Pulau)

Banda hari itu sulit ditebak. Pagi ia mendung, tiba-tiba cerah, setelahnya hujan langsung turun, saya pun dibuat bingung untuk membuat rencana. Saya rasa mungkin ini yang dinamakan semesta mendukung, Kapal Pangrango mempertemukan saya dengan Bang Ivan, seorang Ambon yang baru pertama kali juga ke Banda bersama keluarga. Dia mengajak saya untuk ikut ke pulau Pisang bersama keluarganya secara cuma-cuma. Karena saya sendiri pun belum ada rencana, mari kita pergi!

20170715_124111_-874125977

Perjalanan ke pulau Pisang sekitar 40 menit, ombak saat itu sangat besar. Pulau ini disebut juga sebagai Pulau Sjahrir, karena pada jaman dahulu Sutan Sjahrir sering berkunjung dan pulau ini merupakan favorit beliau. Selain ada alam bawah laut, di pulau Pisang juga ada Tanjung Serang. Sayangnya kami tidak bisa menyelam di bagian timur karena ombak besar datang dari sisi sebelah sana, padahal di sisi tersebut katanya adalah titik terbaiknya. Yasudah apa boleh buat kalau alam hanya mengijinkannya demikian.

Pulau Pisang ini unik, di sini banyak rumah namun tidak ada orang. Semua orang kalau siang akan menuju ke Neira sebagai pusat aktivitas, layaknya kos-kosan yang ditinggalkan. Berpapasanlah kami dengan ibu-ibu yang ingin pergi kondangan di Neira, dan ya pastinya dengan kapal.

20170715_130507_34703184 copy

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Tipe karangnya sih keras tapi banyak yang mati, sebenarnya kalau diliat sih ini mati karena faktor alam tampaknya. Musim angin membuat arus air bisa berubah jadi hangat dan dingin, selain itu tinggi pasang surut air di Banda bisa jadi penentu. Setelah setengah jam berenang kemudian kami naik untuk ke Tanjung Serang, bisa dibilang ini tempat foto terbaik di pulau Pisang. Ada satu sekolah yang menarik perhatian saya ketika dalam perjalanan ke tanjung. Saya rasa ini satu-satunya sekolah di sini.

20170715_125917_1061704771 copy

DCIM100MEDIADCIM100MEDIA

Selesai foto, makan-makan, dan minum-minum, pemandu mengajak kami untuk berenang lagi di Taman Kapuk, kalau tidak salah namanya saya pun lupa. Walaupun letaknya ada di sebelah timur Pulau Neira, tetapi tenang saja ombak tidak kencang karena arus terhalang oleh Pulau Banda Besar. Menurut saya ini salah satu titik berenang terbaik di Pulau Neira, karangnya masih banyak yang bagus, ada yang keras dan lembut juga di sini. Dalam perjalanan kami berpapasan dengan burung Talang, hewan ini adalah mitos menurut orang Banda sekitar. Memburu, membunuh, dan memakan burung ini jadi salah satu pantangan bagi orang laut Banda. Burung Talang berguna sebagai penanda ombak dan angin besar, selain itu keberadaannya menandakan tempat ikan berkumpul.

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Kami hanya berenang sebentar, karena tiba-tiba hujan kembali datang. Tapi saya sudah sangat puas karena sudah hilang rasa penasaran saya. Kembali ke penginapan, makan siang, main ukulele di teras, tidur siang sebentar, lalu saya pun kembali berjalan karena cuaca berangsur cerah. Sayangnya Bang Ivan tidak bisa ikut, karena ia hanya dua hari di Banda dan harus pamit ke Ambon duluan.

DCIM100MEDIA

Sore hari itu saya penasaran dengan Mercusuar Lautaka yang katanya tempat foto keren di Banda Neira. Tanya-tanya orang katanya sangat jauh, ah tapi saya ngeyel untuk jalan kaki. Benar saja ternyata super jauh sekali dan jalanannya benar-benar tidak bisa disangka karena masuk ke dalam hutan setelah dari Pantai Maloli.

20170715_202755_-1834437905 copy

Landasan Pacu Bandara Banda Neira.

20170715_185339_961574367

20170715_185259_-686111104

Pantai Maloli.

 

Perjalanan sekitar 1.5 hingga 2 jam jalan kaki dari pusat kota, dengan sekitar 20 menit menulusuri hutan. Ternyata mercusuarnya tidak seperti yang saya bayangkan di pulau Pramuka, bentuknya seperti sutet dan sungguh sangat tinggi. Saya sarankan sih kalau takut ketinggian lebih baik tidak usah pergi, saya sendiri pun naiknya benar-benar ketakutan. Sebenarnya naik ke sini sudah mulai dilarang oleh pemerintah, selain karena suka ada pencurian aki dan lampu, pelarangan ini juga untuk faktor keamanan. Maafkan saya ya bapak-bapak, sekali ini saja.

 

20170715_190436_19962718 copy

Mercusuar Lautaka.

 

20170715_195053_-669399305Dari atas sini pemandangannya benar-benar keren sekali! Saya bisa lihat Banda Neira dari kejauhan dan Gunung Api Banda dari sudut lain. Tidak lama setelah saya naik ada 4 orang pemuda naik juga, namun yang satu menyerah di tingkat tiga karena takut ketinggian. Saya akui nyali mereka benar-benar besar, pegangan tangan mercusuar dipanjat mereka untuk pose berfoto. Dengkul saya lemas melihat mereka memanjat, luar biasa lah pokoknya!

DCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIA20170715_194425_16222902

20170715_194333_-1983196345 copy

Matahari tenggelam pun tiba, 4 pemuda tadi akhirnya turun. Mereka memberikan saya 2 buah Beng-Beng agar saya tidak kelaparan di atas sini katanya, sungguh baik sekali hahaha. Tidak lama saya pun turun bergegas karena saya lupa bahwa jalan pulang harus menyusuri hutan, walau masih ada matahari tapi jalanan di hutan sangat gelap karena rimbunnya pohon-pohon. Pasrah saja mungkin saat itu kaki saya sudah letih namun perjalanan masih sekitar dua jam untuk sampai di penginapan. Beruntung saya bertemu dengan seseorang di Pantai Maloli dan dia memberikan saya tumpangan hingga Pelabuhan. Alhamdulillah saya kembali ke penginapan dengan kenyamanan dan biaya yang cuma-cuma, sungguh baik memang orang-orang di sini. Masih ada hari esok, selamat malam Banda Neira!

DCIM100MEDIA

 

Biaya Perjalanan:

Kapal Neira – Pulau Pisang:

Gratis (kapal umum sekitar Rp 20.000, sewa kapal sekitar Rp 300.000 – Rp 500.000)

 

 

Tips:

Kalau ingin berjalan kaki ke mercusuar pastikan bawa air. Bila takut ketinggian jangan dipaksakan, karena lokasi di dalam hutan takutnya tidak ada orang lewat yang menolong bila terjadi apa-apa.

Jangan malu untuk meminta bantuan dan jangan berpikir bahwa orang-orang di sini berorientasi uang. Sudah jadi budaya mereka disini untuk saling membantu satu sama lain :).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s