Berlayar ke Kepulauan Banda (Bagian 3: Main-Main ke Pulau Rozengain)

Semalam saya tidur larut karena mengobrol banyak dengan tukang bakso dan penjual oleh-oleh di dekat Pelabuhan Banda Neira. Seru banget dan menurut saya kehidupan ekonomi di Banda Neira itu unik banget berdasarkan obrolan yang saya dengar. Hari ini hujan lebat dari pagi, rencana ke Gunung Api kembali batal dan ya saya putuskan istirahat saja sembari menunggu hujan.

Hujan berhenti jam 11 siang dan cuaca terlihat bersahabat untuk pergi ke pulau lain, maka saya bulatkan tekad untuk ke Pulau Rozengain. Dikenal juga dengan Pulau Hatta karena pada masa lalu Pak Hatta pernah pergi mengasingkan diri ke pulau ini dari Banda Neira menggunakan kole-kole (sampan) selama tiga hari, selain itu di pulau ini juga Pak Hatta akan dieksekusi mati oleh Belanda. Selama perjalanan 45 menit ke Pulau Rozengain dengan ombak yang sangat besar, saya hanya bisa geleng-geleng membayangkan bagaimana Pak Hatta pergi kesini hanya dengan sebuah kole-kole, takjub.

20170728_013458_-1477188437

Tiba di Pulau Hatta.

Tiba di Pulau Hatta sekitar jam 2 sore dan saya tidak ada info untuk penginapan dan sebagainya, hingga di kapal saya bertemu seorang warga asli sana yang menawarkan rumahnya sebagai tempat untuk menginap. Rata-rata biaya penginapan di Pulau Hatta sekitar Rp 150.000 dengan termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Pulau Hatta akan ramai oleh turis mancanegara di Bulan Oktober dan November karena cuaca sangat baik pada waktu tersebut. Terlebih tahun ini akan ada upacara pembukaan ‘Sasi’, sebuah upacara untuk memberikan larangan pengambilan hasil laut dalam waktu tertentu sehingga diharapkan mampu mengembalikan ekosistem terhadap penangkapan yang berlebihan. Sasi kali ini sudah berjalan selama empat tahun meliputi lobster dan teripang.

20170728_013616_1822998438 copy

Mau pergi menyelam tapi ombak besar sekali, terlebih katanya tipe karang di Pulau Hatta ini hanya menjorok sepuluh meter ke laut dan langsung turun curam seperti palung ke laut bebas. Tetapi karang-karang menempel di dinding tersebut seperti vertical garden, sangat indah. Mendengar cerita tersebut langsung hilang ragu dan langsung sajalah menyelam, apalagi saya hanya punya sekitar kurang dari 20 jam di Pulau Hatta.

DCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIA

Selama berenang banyak sekali ikan-ikan, dan yang paling kagum saya bertemu dengan seekor penyu! Sayangnya hanya sebentar karena dia lincah sekali berenang melawan arus. Air bisa jadi tiba-tiba dingin, bisa jadi hangat tiba-tiba juga, yap beginilah banyak pertemuan arus selama berenang yang padahal hanya sekitar 100 meter dari bibir pantai. Sayangnya baru 70 persen rute berenang yang direkomendasikan, saya harus memutar karena ombak besar membuat air menjadi keruh akibat pasir yang terangkat.

DCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIA

Jujur, Pulau Hatta ini salah satu spot snorkeling terbaik di Banda menurut saya. Bukan karena kecantikan karangnya, terlebih karena bentuk karangnya yang tiba-tiba turun curam ke laut bebas benar-benar bikin sedikit ngeri sewaktu berenang. Sayang karangnya banyak yang hancur karena tergerus kapal, karena pasa Oktober dan November air laut akan turun hingga garis palung jadi mau tidak mau kapal akan menggerus karang. Sayang banget.

DCIM100MEDIADCIM100MEDIADCIM100MEDIA

Selesai berenang saatnya menunggu matahari terbenam sambil ditemani anak-anak yang bermain di pantai, seru banget mereka! Banyak sekali permainannya, mungkin setiap jam mereka bisa berganti permainan. Tetapi yang paling menarik ketika mereka bermain ‘Caburakburakuku’, seperti permainan sembunyi batu. Ada dua kelompok yang akan saling menebak, sebelumnya mereka akan membaca mantra lalu akan berteriak ‘Caburakburakuku, Caburakburakuku..’ begitu terus hingga kelompok lawan menebak. Ada juga yang bermain kole-kole dan memancing juga, aaah suasana seperti ini akan bikin kangen banget ketika balik ke Jakarta.

20170728_013144_-1353660368 copy

20170728_013240_1802592508 copy

Caburakburakuku.

Tuhan Maha Baik, menjelang matahari terbenam awan yang tadinya mendung dibukakan pelan-pelan oleh Dia. Bersyukur banget masih diizinkan melihat matahari terbenam dengan warna langit yang super keren di Pulau Hatta, walau tidak sempurna tapi warnanya ini loh benar benar menakjubkan.

20170728_012526_-64818413620170728_012623_-1512947043

Sampai akhirnya warna jingga memudar menjadi gelap menjadi pertanda saya dan anak-anak harus kembali ke rumah. Menyenangkan sekali di pulau ini, sangat tenang dan lepas dari dunia luar. Suatu hari pasti akan kembali lagi, pasti.

20170728_012727_362217804 copy

20170728_012851_-1222127661 copy

 

 

Biaya:

Kapal Neira – Rozengain:

Rp. 20.000

Penginapan:

Rp. 150.000/orang/malam

Sewa alat snorkeling:

Rp. 25.000

 

Tips:

Kapal dari Neira menuju Rozengain terdapat di sebelah kanan Pelabuhan Banda Neira, sekitar 400 meter dari pelabuhan. Menginaplah di kawasan Kampung Lama karena di sana merupaka spot terbaik untuk snorkeling, penginapan bisa ditemukan di sepanjang pantai dan lumayan banyak tersedia. Hemat-hematlah baterai karena listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga 11 malam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s