Berlayar ke Kepulauan Banda (Bagian 4: Hari Pertama di Pulau Rhun)

Pagi sekali saya bangun tidur di Pulau Hatta sambil meminum teh manis hangat untuk menunggu kapal, ingin keluar untuk lihat pantai tapi angin sangat dingin cenderung hujan. Sekitar jam setengah delapan kapal saya tiba, baru kali ini menunggu kapal sambil berteriak-teriak memanggil seperti menunggu bis kota saja rasanya. Pagi ini saya putuskan kembali ke Neira dan biarkan alam yang memutuskan saya setelah itu akan kemana.

20170731_152405_1942940368

Cuaca saat itu hujan rintik dan ombak masih saja besar, tapi beruntungnya di jalan pulang ini kami seirama dengan ombak. Kapal juga saat itu tidak terlalu penuh seperti saat pergi, kalau kemarin ada sayur-sayuran, berkarung-karung terigu, bahkan hingga berbatang-batang kayu besi. Kalau sekarang sih agak sepi paling hanya beberapa tas dan kardus. Ah tapi mau penuh atau sepi perjalanan pulau ke pulau di Banda selalu menyenangkan kok.

20170731_152614_326669779

Sebelumnya saya lupa beritahu dimana biasanya kapal-kapal antar pulau akan berkumpul, ini dia Mako Sandar Banda Neira. Semua kapal kecil yang datang dan pergi akan singgah di dermaga ini, letaknya agak tersembunyi di sudut gang kecil saja.

20170731_153928_-158451018

20170731_152756_2011166813 copy20170731_152904_-678835154 copy

Sesampainya di Neira cuaca tampaknya akan mendung namun angin tidak terlalu kencang, kode alam sudah kuat mengijinkan saya ke pulau terjauh yaitu Rhun. Saat cuaca buruk seperti ini jalan ke Rhun memang agak sulit karena ombaknya berasal dari laut lepas, tidak jarang bahkan kapal tidak jadi berangkat karena situasi cuaca dan ombak yang buruk. Sebelum berangkat tidak lupa beli jajanan di kedai kecil kue pasar di sudut dermaga, donat kampung dan kue srikaya jadi teman jalan selama satu setengah jam di kapal.

20170731_153728_384749896 copy

20170731_154248_-1742718903

20170731_154416_-1795928958 copy

Selamat datang di Pulau Rhun.

Sebenarnya alasan saya ke Kepulauan Banda ya Pulau Rhun ini, saya penasaran dengan pulau kecil yang rela ditukar oleh Inggris pada jaman dahulu dengan Manhattan kepada Belanda. Pulau Rhun ini desainnya unik banget, jadi di depan dermaga ada karang yang bentuknya seperti pemecah ombak alami. Karangnya dangkal, lalu turun lagi seperti kolam besar bentuknya. Hanya ada satu jalan untuk kapal besar bisa masuk, yaitu menyisir dari sisi kanan. Pantas saja jaman dahulu banyak kapal asing yang hancur ketika ingin merebut pulau ini.

20170731_161122_-494625705 copy20170731_160945_1394758589DCIM100MEDIA

Sewaktu turun rasanya tidak tampak bahwa pulau ini pernah dinobatkan jadi pulau terkaya se-Hindia Timur oleh orang Eropa. Gapura-nya kecil dan cat-nya pun sudah rusak karena cuaca, bahkan tulisan ‘Rhun Island’ saja tidak bisa dibaca jelas.

Karena kepala mulai vertigo lagi karena terlalu lama naik kapal, sepertinya hari ini saya akan istirahat saja sambil berkeliling jalan kaki. Seru sekali ada kompetisi sepakbola antar kampung, jadi karena dari kemarin hujan ya mau gak mau mereka harus main di lapangan yang becek.

20170731_154841_-1704394806

20170731_155648_13466811320170731_160002_-89232504120170731_160840_-1752670341

Setelah jalan-jalan sendiri sampai akhirnya bingung karena jalan semennya habis dan harus masuk hutan, jadi saya putuskan ke dermaga saja sambil menunggu matahari tenggelam. Sambil ditemani anak-anak yang sedang merayakan kemenangan karena mereka berhasil masuk final besoknya, rasanya seru sekali ya hidup gak ada pikiran setenang ini. Mungkin memang bukan matahari tenggelam terbaik, tetapi hari pertama di Pulau Rhun sudah buat saya takjub.

20170731_161648_-1442476225 copy20170731_161838_1804278205

Pada malam harinya saya diajak ke pernikahan saudara dari bapak yang punya penginapan tempat saya menginap, Bapak Abdullah namanya. Entah ini menggunakan adat Melayu atau memang budaya sini hampir mirip dengan Melayu, entahlah. Yang penting pestanya seru sekali! Pokoknya bila main ke Pulau Rhun kalian harus bertemu dengan Bapak Abdullah, kenapa begitu? Akan saya lanjutkan ceritanya nanti :).

20170731_163022_1081359774 copy

 

Biaya:

Kapal Pulau Hatta – Neira:

Rp. 20.000

Kapal Neira – Pulau Rhun:

Rp. 30.000

Penginapan:

Rp. 150.000/orang/malam

 

Tips:

Bila singgah di Pulau Rhun menginaplah di Manhattan 2, amat sangat direkomendasikan. Banyak-banyaklah ngobrol dengan pemiliknya karena beliau sangat baik sekali. Hemat-hemat baterai karena listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga 12 malam saja.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s